Tim Ekspedisi Patriot Perkuat Layanan Kesehatan di Distrik Yapsi melalui Digitalisasi

Tim Ekspedisi Patriot Perkuat Layanan Kesehatan di Distrik Yapsi melalui Digitalisasi
Papuanewsonline.com, Jayapura — 11 September 2026, Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 Kluster Kesehatan melaksanakan rangkaian Focus Group Discussion (FGD) di UPTD Puskesmas Yapsi, Distrik Yapsi, Kawasan Transmigrasi (KT) Lereh, Kabupaten Jayapura, Papua, pada Jumat, 11 September 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pelayanan kesehatan melalui digitalisasi, penguatan literasi layanan kesehatan masyarakat, serta peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dan kader berbasis kebutuhan di lapangan.
Rangkaian FGD dilaksanakan oleh Tim 11 dan Tim 12 dengan tema yang saling melengkapi. Tim 11 mengangkat tema “Digitalisasi dan Penguatan Literasi Layanan Kesehatan Masyarakat”, sementara Tim 12 mengangkat tema “Penguatan Kapasitas Tenaga Kesehatan dan Kader Berbasis Komunitas untuk Mendukung Kawasan Transmigrasi yang Sehat dan Berkelanjutan.”
Kegiatan dihadiri oleh Kepala Puskesmas Yapsi dr. Maryon, perwakilan Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura Yeni Safitri, S.Si., Apt., tenaga kesehatan Puskesmas dan Pustu di wilayah Distrik Yapsi, serta Tim Ekspedisi Patriot 2026 Kluster Kesehatan. Pemaparan Tim 12 disampaikan oleh Ketua Tim, apt. Yangie Dwi Marga Pinanga, Ph.D., secara daring melalui Zoom, sedangkan pemaparan Tim 11 dilaksanakan secara langsung di Puskesmas Yapsi oleh Ketua Tim, Dr. Muhammad Yudhistira Azis, M.Si.
Puskesmas dan Dinas Kesehatan Sambut Kolaborasi
Kegiatan diawali dengan sambutan Kepala Puskesmas Yapsi, dr. Maryon, yang menyampaikan ucapan selamat datang kepada Tim Ekspedisi Patriot serta menyambut baik kolaborasi dengan Puskesmas dan Pustu di wilayah Distrik Yapsi.
“Selamat datang dan selamat bergabung bersama Puskesmas Yapsi. Kami menyambut baik kehadiran Tim Ekspedisi Patriot dan berharap kerja sama ini dapat memberikan manfaat bagi peningkatan pelayanan kesehatan di Puskesmas dan Pustu, serta bagi masyarakat di Distrik Yapsi.”
Perwakilan Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura, Yeni Safitri, S.Si., Apt., turut menyampaikan apresiasi kepada Institut Teknologi Bandung (ITB) atas kontribusinya dalam mendukung penguatan pelayanan kesehatan di wilayah Yapsi.
“Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang tinggi kepada Institut Teknologi Bandung atas kepedulian dan kontribusinya dalam mendukung pelayanan kesehatan di Distrik Yapsi. Kami berharap kolaborasi ini dapat terus berlanjut dan menghasilkan langkah-langkah nyata yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat serta kondisi pelayanan kesehatan di lapangan.”
Tim 12: Penguatan Kapasitas Tenaga Kesehatan dan Kader
Pemaparan pertama disampaikan oleh Tim 12 melalui Ketua Tim, apt. Yangie Dwi Marga Pinanga, Ph.D., secara daring melalui Zoom. Mengangkat tema “Penguatan Kapasitas Tenaga Kesehatan dan Kader Berbasis Komunitas untuk Mendukung Kawasan Transmigrasi yang Sehat dan Berkelanjutan”, pemaparan membahas kondisi kesehatan di KT Lereh sebagai dasar asesmen kebutuhan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dan kader.
Asesmen dilakukan melalui kuesioner, wawancara dengan tenaga kesehatan dan kader, observasi lapangan, serta pengolahan dan analisis data pada UPTD Puskesmas Yapsi dan sejumlah Pustu. Pemetaan mencakup kapasitas tenaga kesehatan dan kader, kebutuhan pelatihan, ketersediaan obat dan alat kesehatan, kendala pelayanan, serta sistem rujukan.
Hasil asesmen menunjukkan masih terdapat perbedaan kapasitas dan ketersediaan sarana antar-Pustu. Beberapa fasilitas menghadapi keterbatasan obat dan alat kesehatan, seperti oksigen, nebulizer, hecting set, dan partus set. Selain itu, 82,4 persen responden belum pernah mengikuti pelatihan atau membutuhkan penyegaran kompetensi. Kebutuhan pelatihan yang banyak disampaikan meliputi kegawatdaruratan maternal dan neonatal, BTCLS/BLS, serta Asuhan Persalinan Normal (APN).
Penguatan kapasitas juga diarahkan kepada kader Posyandu dan kader malaria, khususnya dalam pemantauan tumbuh kembang dan stunting, deteksi dini penyakit, pengenalan tanda bahaya, pencegahan malaria, pengendalian vektor, sanitasi, serta rujukan.
Dalam diskusi, apt. Yangie Dwi Marga Pinanga, Ph.D., menekankan pentingnya peningkatan kompetensi yang disesuaikan dengan kebutuhan dan peran masing-masing tenaga kesehatan. BTCLS diarahkan bagi perawat, APN bagi bidan, sementara pelatihan kegawatdaruratan dapat dikembangkan untuk lintas profesi. Ia juga berharap seluruh Pustu memperoleh kesempatan yang sama dalam peningkatan kompetensi.
Tim 11: Digitalisasi dan Penguatan Literasi Layanan Kesehatan Masyarakat
Focus Group Discussion ini menghadirkan narasumber utama dosen system informasi Universitas Cenderawasih Papua yakni Dr. Mingsep Rante Sampebua, S.T,. M.T dengan membawa paparan tentang “Sistem Informasi Lerehfarma Sebagai Layanan Kesehatan Di Puskesmas Yapsi Kabupaten Jayapura”.
Dalam pemaparannya, Dr. Mingsep menjelaskan pentingnya sistem informasi sebagai sarana penyediaan informasi yang dapat mendukung pengambilan keputusan dan manajemen pelayanan kesehatan, sekaligus mendorong pengelolaan data yang lebih terintegrasi, berkualitas, dan mudah diakses. Paparan tersebut menjadi pengantar untuk melihat bagaimana pemanfaatan sistem informasi dapat disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan kesehatan di tingkat Puskesmas dan fasilitas kesehatan lainnya.
“Sistem informasi bukan hanya tentang membuat aplikasi, tetapi bagaimana informasi dapat dikelola dan dimanfaatkan untuk mendukung pelayanan dan pengambilan keputusan.”
Setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi bersama peserta. Dalam sesi ini, peserta menyampaikan berbagai masukan dan pertanyaan mengenai penerapan sistem informasi kesehatan di Distrik Yapsi. Salah satu pembahasan penting adalah perlunya keterhubungan sistem yang dikembangkan dengan sistem atau aplikasi yang telah digunakan oleh Puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan agar tidak menimbulkan duplikasi penggunaan aplikasi.
Diskusi juga menyoroti pentingnya pengelolaan data yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Peserta menekankan bahwa pengembangan sistem perlu memperhatikan kondisi fasilitas kesehatan, alur pelayanan, ketersediaan tenaga kesehatan, serta kesiapan pengguna dalam mengoperasikan sistem. Oleh karena itu, penerapan teknologi perlu dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan kondisi nyata di wilayah Yapsi.
“Yang paling penting adalah bagaimana sistem yang dikembangkan dapat digunakan dan benar-benar membantu kebutuhan pelayanan kesehatan di lapangan.”
Melalui sesi diskusi tersebut, pemaparan mengenai sistem informasi kesehatan tidak berhenti pada konsep, tetapi juga memperoleh masukan langsung mengenai kondisi, kebutuhan, dan tantangan penerapannya di Distrik Yapsi.
Selanjutnya, Dr. Muhammad Yudhistira Azis, M.Si., dosen Institut Teknologi Bandung sekaligus Ketua Tim Kluster Kesehatan Tim Ekspedisi Patriot 2026 di Distrik Yapsi, menyampaikan paparan mengenai digitalisasi dan penguatan literasi Layanan Kesehatan Masyarakat.
Paparan hasil survei tersebut merupakan bagian penting untuk memberikan gambaran mengenai kondisi kesehatan dan layanan kesehatan masyarakat berdasarkan temuan langsung di lapangan. Survei dan observasi sebelumnya dilakukan di enam Satuan Permukiman (SP) dan tiga kampung lokal untuk menghimpun informasi mengenai layanan kesehatan yang tersedia, akses obat-obatan, kondisi dan akses air bersih, akses transportasi, literasi mengenai kesehatan digital, serta berbagai masalah kesehatan yang menjadi perhatian masyarakat.
Dari hasil temuan tersebut, malaria menjadi salah satu permasalahan kesehatan yang paling menonjol. Selain itu, ditemukan pula berbagai penyakit dan keluhan kesehatan lainnya, seperti penyakit kulit, flu dan batuk, ISPA, diare, nyeri sendi, serta kecelakaan kerja. Temuan lapangan juga menunjukkan adanya sejumlah tantangan dalam pelayanan kesehatan, termasuk keterbatasan alat kesehatan, ketersediaan air bersih, akses internet, tenaga kesehatan, serta ketersediaan obat-obatan.
“Temuan lapangan ini menjadi dasar bagi kami untuk melihat apa yang benar-benar dibutuhkan masyarakat, sehingga solusi yang dikembangkan berdasarkan kondisi yang ditemukan langsung di Distrik Yapsi.”
Dr. Yudhistira kemudian menjelaskan bahwa hasil survei dan observasi tersebut menjadi salah satu dasar dalam pengembangan Lerehfarma.id. Platform ini diperkenalkan sebagai salah satu upaya untuk membantu menjawab kebutuhan masyarakat terkait informasi layanan kesehatan, akses dan informasi obat-obatan, edukasi kesehatan, informasi data penyakit, serta penyampaian laporan atau pengaduan masyarakat.
Edukasi Air Bersih dan Tutorial Pengecekan pH Air
Selain memaparkan hasil survei, Dr. Yudhistira juga memberikan edukasi mengenai pentingnya air bersih bagi kesehatan masyarakat. Materi ini dikaitkan dengan hasil temuan lapangan mengenai kondisi sumber dan akses air yang beragam di sejumlah wilayah dan fasilitas kesehatan di Distrik Yapsi.
Edukasi tidak hanya dilakukan melalui penyampaian materi, tetapi juga dilengkapi dengan tutorial dan praktik langsung cara mengecek pH air untuk melihat kondisi air yang akan digunakan untuk konsumsi dan sebagai sumber air untuk sterilisasi alat-alat medis di puskesmas dan puskesmas pembantu. Dalam sesi tersebut, peserta diperkenalkan dengan cara melakukan pengecekan pH air sebagai salah satu pengetahuan dasar untuk memperhatikan karakteristik air yang digunakan sehari-hari.
“Menjaga kesehatan tidak hanya dilakukan ketika kita sudah sakit. Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah air yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari.”
Melalui praktik tersebut, peserta memperoleh pengalaman secara langsung dalam melakukan pengecekan pH air. Sesi ini menjadi bagian dari edukasi kesehatan yang menghubungkan pengetahuan mengenai air bersih dengan praktik sederhana yang dapat dipahami oleh siswa.
Edukasi Penyakit dan Demo Lerehfarma.id
Dalam rangkaian paparannya, Dr. Yudhistira juga memberikan edukasi mengenai sejumlah penyakit yang menjadi perhatian berdasarkan kondisi dan temuan di Distrik Yapsi. Materi yang disampaikan mencakup malaria, ISPA, kudis atau skabies, serta HIV/AIDS.
Bagian penting lainnya adalah sosialisasi dan demo Lerehfarma.id. Peserta diperkenalkan dengan berbagai fitur yang tersedia dan diajak memahami bagaimana platform tersebut dapat digunakan untuk memperoleh informasi kesehatan.
Demo dilanjutkan dengan praktik penggunaan website, mulai dari mengakses Lerehfarma.id, mencari fasilitas kesehatan, melihat informasi dan akses obat-obatan, membaca edukasi kesehatan, membuat laporan atau pengaduan, hingga melihat informasi data penyakit.
“Lerehfarma.id diharapkan menjadi sarana yang dapat membantu masyarakat memperoleh informasi kesehatan diantaranya fasilitas Kesehatan di Yapsi, Info Obat, Edukasi Pencegahan Penyakit tertinggi, dan kotak pengaduan dan data penyakit.
Sesi Diskusi dan Masukan Pengembangan Lerehfarma.id
Setelah rangkaian pemaparan, edukasi, tutorial, dan demo, Dr. Yudhistira membuka sesi diskusi bersama peserta. Sesi ini menjadi ruang untuk membahas secara langsung berbagai pengalaman, kebutuhan, serta tantangan yang dihadapi dalam pelayanan kesehatan di Distrik Yapsi dan pengembangan Lerehfarma.id.
Beberapa pembahasan penting dalam diskusi mencakup mekanisme pengelolaan informasi obat, keterhubungan Lerehfarma.id dengan sistem yang telah digunakan di Puskesmas dan Pustu, serta mekanisme pengaduan masyarakat. Peserta juga memberikan perhatian terhadap kondisi akses internet yang belum merata di beberapa wilayah, termasuk kemungkinan penggunaan mekanisme alternatif untuk mendukung penyampaian informasi dan pengaduan pada wilayah dengan keterbatasan jaringan.
Dalam pembahasan mengenai pengaduan, disampaikan bahwa laporan masyarakat dapat dikelola oleh tenaga kesehatan, sementara pelapor dapat memantau perkembangan laporan melalui mekanisme yang tersedia. Untuk kondisi yang membutuhkan respons lebih cepat, komunikasi juga dapat diteruskan kepada bagian atau tenaga kesehatan yang sesuai.
Peserta turut memberikan sejumlah masukan untuk pengembangan Lerehfarma.id, antara lain perlunya status laporan yang lebih informatif sehingga masyarakat dapat mengetahui perkembangan penanganan pengaduan. Selain itu, terdapat masukan mengenai pentingnya pencatatan perpindahan obat antar fasilitas agar jenis, jumlah, dan asal obat tetap dapat tercatat dengan jelas.
“Masukan dari peserta sangat penting karena sistem yang baik harus terus dikembangkan berdasarkan pengalaman dan kebutuhan pengguna di lapangan.”
Diskusi berlangsung secara interaktif dan menjadi bagian penting dalam proses penyempurnaan gagasan Lerehfarma.id. Berbagai masukan yang diperoleh menjadi bahan pertimbangan dalam pengembangan layanan agar dapat semakin sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan kondisi pelayanan kesehatan di Distrik Yapsi.
Melalui paparan dan sesi diskusi kedua pemateri, kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang untuk menyampaikan informasi, tetapi juga membangun pertukaran gagasan antara akademisi, Tim Ekspedisi Patriot, dan peserta. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat mendukung pengembangan solusi kesehatan dan digitalisasi layanan yang berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat di Distrik Yapsi.
Tim Kluster Kesehatan Tim Ekspedisi Patriot 2026 menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada seluruh jajaran dan perangkat Puskesmas Yapsi yang telah hadir, berpartisipasi aktif, serta memberikan berbagai masukan selama pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD).
Apresiasi dan terima kasih juga disampaikan kepada Dr. Mingsep Rante Sampebua, S.T., M.T. selaku narasumber utama dan Dr. Muhammad Yudhistira Azis, apt. Yangie Dwi Marga Pinanga, Ph.D. sebagai Tim Ekspedisi Patriot 2026 Kluster Kesehatan sekaligus sebagai pemateri yang telah berbagi pengetahuan, pengalaman, serta gagasan dalam penguatan sistem informasi kesehatan dan pengembangan LerehFarma sebagai bagian dari upaya mendukung layanan kesehatan di Distrik Yapsi.
Dari Pemetaan Menuju Tindak Lanjut
Kedua FGD memberikan gambaran yang saling melengkapi mengenai kebutuhan pelayanan kesehatan di Distrik Yapsi. Tim 12 berfokus pada penguatan kapasitas tenaga kesehatan dan kader, sedangkan Tim 11 mendorong pemanfaatan teknologi dan penguatan literasi layanan kesehatan masyarakat.
Sebagai tindak lanjut, TEP 2026 merencanakan peningkatan kapasitas melalui pelatihan Swamedikasi dan Dagusibu, BTCLS dan APN, serta pengelolaan obat dan peralatan kesehatan. Pelaksanaan pelatihan akan disesuaikan dengan kondisi dan jadwal pelayanan di masing-masing Pustu serta dilengkapi dengan pendampingan pascapelatihan.
Melalui kolaborasi antara TEP 2026, Puskesmas Yapsi, Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura, perguruan tinggi, tenaga kesehatan, kader, dan masyarakat, kegiatan ini diharapkan menjadi langkah konkret dalam memperkuat pelayanan kesehatan yang lebih responsif, berbasis kebutuhan lapangan, dan berkelanjutan di Distrik Yapsi, Kawasan Transmigrasi Lereh, Kabupaten Jayapura, Papua.
Terima kasih turut disampaikan kepada seluruh peserta FGD yang telah terlibat dalam diskusi, menyampaikan pertanyaan, pengalaman, dan masukan berdasarkan kondisi pelayanan kesehatan dan tenaga Kesehatan di lapangan. Berbagai pandangan yang disampaikan menjadi bahan penting dalam penyempurnaan LerehFarma agar semakin sesuai dengan kebutuhan tenaga kesehatan dan masyarakat di Distrik Yapsi.
Berita ini dimuat oleh
Papua News Online


